Senin, 08 Mei 2017

Makalah Ekonomi Politik (Barang Publik, Teori Organisasi dan Kolektif)


A.    Jenis-Jenis Barang
      Dalam memandang berbagai jenis barang dalam perekonomian, akan bermanfaat jika mengelompokkan menurut dua sifat atau karakteristik sebagai berikut.
·                  Apakah barang itu eksludable / daat dikecualikan (excludable).
·                  Apakah barang itu saingan (rival).
Melalui sifat diatas dapat membagi berbagai barang menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut.

1)      Barang Swasta / Private goods
Merupakan barang-barang yang bersifat ekskludabel (dapat dikecuaikan dalam pemanfaatanya) dan rival (merupakan barang saingan dalam pemanfaatanya). Mari kita ambil es krim sebagai conto. Tentu saja, es krim bersifat  ekskludabel karena terdapat kemungkinan untuk mencegh seseorang agar tidak memakan es krim, cukup dengan tidak memberinya es krim. Es krim juga merupakan barang rival karena jika seseorang memakan es krim, orang lain tidak dapat memakan es krim yang sama.
2)      Barang Publik / Public goods
Merupakan barang-barang yang tidak (bersifat) ekskludabel dan tidak juga bersifat rival. Artinya, kita tidak dapat mencegah orang dari menggunakan barang publik dan penggunaan seseorang atas barang publik tidak menguragi kemampuan orang lain untuk menggunakannya. Sebagai contoh, alarm angin puting beliung di suatu kota kecil adalah baran publik. Apabila alarm itu berbunyi, kita tidak mungkin menghalangi orang lainuntuk mendengarnya. Selain itu, apabila seseorang memperoleh manfaat dari alarm itu, dia tidak mengurangi manfaat alarm itu bagi orang lain.

3)      Sumber Daya milik bersama / common resource
Merupakan barang rival, tetapi tidak eksludable. Sebagai contoh, ikan-ikan dilautan merupakan barang rival; apabila seseorang menangkap ikan, jumlah ikan yang dapat ditangkap oleh orang lain menjadi berkurang luasnya lautan, sulit untuk menghentikan para nelayan dari mengambil ikan.
4)      Apabila suatu barang ekskludabel, namun bukan rival
Maka barang itu merupakan contoh monopoli alamiah. Contohnya adalah perlindungan kebakaran disebuah kota kecil. Mudah untuk mencegah orang lain menggunakan  barang ini; Dinas Pemadaman kebakaran cukup membiarkan rumahnya terbakar. Namun, perlindungan kebakaran bukan barang rival. Para petugas pemadam kebakaran menghabiskan sebagai besar waktu mereka menunggu terjadinya kebakaran sehingga melindungi satu rumah lagi kecil kemungkinan mengurangi perlindungan untuk rumah lain. Dengan kata lain, apabila warga kota telah menggaji dinas pemadam kebakaran, biaya tambahan untuk melindungi satu rumah lagi pun kecil.

B.     Definisi Barang Publik
              Secara umum barang publik biasa dipahami sebagai sesuatu yang dapat dinikmati atau dibutuhkan oleh semua orang. Suatu barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut.
Barang publik memiliki sifat non-rival dan non-eksklusif. Ini berarti konsumsi atas barang tersebut oleh suatu individu tidak akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh individu lainnya dan non-eksklusif  berarti semua orang berhak menikamti manfaat dari barang tersebut. Contoh barang publik ini diantaranya udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu lalu lintas, pertahanan nasional, pemerintahan dan sebagainya. Akan sulit untuk menentukan siapa saja yang boleh menggunakan papan marka jalan misalnya, karena keberadaannya memang untuk konsumsi semua orang.
              Barang publik sempurna (pure public goods) adalah barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Barang publik hampir sama dengan barang kolektif. Bedanya, barang publik adalah untuk masyarakat secara umum (keseluruhan), sementara barang kolektif dimiliki oleh satu bagian dari masyarakat (satu komunitas yang lebih kecil) dan hanya berhak digunakan secara umum oleh komunitas tersebut.

C.    Sifat-Sifat Barang Publik
Barang publik memiliki dua sifat atau dua aspek yang terkait dengan penggunaannya, yaitu :
Ø  Non-rivalry
Berarti bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang lain. Contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan sinar matahari, orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama.
Ø  Non-excludable
Berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut. Dalam konteks pasar, maka baik mereka yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Contoh, masyarakat membayar pajak kemudian diantaranya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan jasa kepolisian, dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut tidak hanya terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun dapat mengambil menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan (excludable) dalam mengambil manfaat atas barang publik.

D.    Perbedaan barang publik dengan barang yang lain
Ø  Non-eksklusivitas     
Salah satu sifat yang membedakan barang publik dengan barang lain adalah apakah orang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut atau tidak. Bagi kebanyakan barang pribadi, pengecualian tentu saja sangat dimungkinkan. Pertahanan nasional merupakan contoh standar. Sekali suatu angkatan bersenjata dibentuk, setiap orang di suatu negara tersebut diuntungkan, apakah dia membayar atau tidak. Barang noneksklusif ini dapat dilawan dengan barang konsumsi pribadi yang eksklusif, seperti mobil atau film dimana pengecualian-pengecualian merupakan suatu masalah sederhana. Mereka yang tidak membayar barang pribadi tersebut tidak menerima jasa yang dijanjikan oleh barang tersebut.
Ø  Non-rivalitas
Sifat kedua yang menjadi karakter dari barang-barang publik adalah nonrivalitas. Barang-barang nonrivalitas adalah barang dimana manfaatnya dapat diberikan bagi pengguna tambahan dengan biaya marjinal nol. Pada sebagian besar barang, tambahan jumlah konsumsi membutuhkan sejumlah biaya produksi marjinal. Misalkan tambahan pemirsa pada satu saluran televisi tidak akan menambah biaya meskipun tindakan ini menyebabkan terjadinya tambahan konsumsi. Konsumsi oleh tambahan pengguna dari barang semacam itu adalah nonrivalitas/nonpersaingan sehingga tambahan konsumsi tersebut membutuhkan biaya marjinal sosial dari produksi sebesar nol, konsumsi tersebut tidak mengurangi kemampuan orang lain untuk mengkonsumsi.

E.     Barang Publik yang Penting
Ø  Pertahanan Nasional
Jika suatu negara berhasil dipertahankan, tidak ada seorang pun yang bisa dicegah untuk menikmati manfaatnya. Ketika seseorang menikmati manfaatnya, manfaat yang dirasakan oleh orang lain tidak akan berkurang. Oleh sebab itu, pertahanan nasional tidak bersifat ekskludabel maupun rival.
Ø  Penelitian ilimu pengetahuan
Jika seorang matematikawan menemukan sebuah teorima baru, maka teorima tersebut akan masuk kedalam ilmu pengetahuan yang boleh dimanfaatkan siapa saja secara gratis. Karena pengetahuan adalah barang publik, maka perusahaan-perusahaan swasta yang mencari keuntungan cenderung untuk menumpang gratis pada pengetahuan yang ditemukan oleh pihak lain, dan hasilnya, perusahan-perusahaan ini mengalokasikan sumber-sumber daya yang terlalu sedikit untuk menciptakan pengetahuan baru. Dengan hak paten, penemuannya bisa menikmati sendiri sebagian besar manfaatnya sampai batas waktu tertentu. Sebaliknya, seorang matematikawan tidak dapat mematenkan teorimanya karena pengetahuan umum seperti itu dapat digunakan oleh siapa saja dengan gratis. Dengan kata lain, berkat adanya undang-undang hak paten, pengetahuan spesifik dan teknis sifatnya ekskludabel, sedangkan pengetahuan umum tidak bisa dijadikan ekskludabel.
Ø  Pengentasan Kemiskinan
Sistem kesejahteraan bersama memberikan sedikit uang kepada keluarga miskin. Begitu juga, program makanan murah ditujukan untuk mengurangi biaya pembelian makanan bagi keluarga miskin berbagai program tempat tinggal dari pemerintah membuat harga tempat tinggal lebih terjangkau. Program-program anti kemiskinan ini dibiayai oleh pajak yang dipungut permerintah dari keluarga atau individu yang sukses secara finansial.

  
TEORI ORGANISASI DAN PERILAKU KOLEKTIF
Meskipun organisasi bisa dipahami secara umum, tetapi dalam realitas sosial ekonomi masyarakat terdapat banyak perbedaan tipe, bentuk, dan ukuran organisasi. Perbedaan tersebut menimbulkan implikasi yang berbeda jika dipakai sebagai alat kelembagaan oleh pelaku individu atau kelompok. Dengan demikian, setiap organisasi lahir dengan tujuan tertentu dan untuk kepentingan bersama dari individu-individu yang terlibat di dalamnya.
Negara sebagai sebuah organisasi juga mempunyai tujuan mewujudkan cita-cita suatu bangsa. Dalam sistem keuangan, negara mempunyai kekuatan memaksa atas dasar hukum dan perundang-undangan yang dibuat untuk mewajibkan warganya membayar pajak. Warga negara wajib membayar pajak karena negara pun menyediakan layanan-layanan publik yang bersifat mutlak seperti pertahanan keamanan, layanan birokrasi, dan sebagainya.
Dari dasar berpikir seperti ini, analisis selanjutnya sampai pada konsep dasar yang disebut barang publik, yaitu manfaat bersama yang disediakan oleh negara. Konsep ini menjadi dasar pemikiran bagaimana seharusnya negara mengalokasikan sumber keuangannya secara efektif (study of public finance). Negara mempunyai kewajiban menyediakan barang publik, setelah masyarakat membayar pajak.
A.    Tujuan Organisasi dan Teori Kelompok
Tujuan Organisasi. Karena kebanyakan tindakan yang diambil oleh kelompok individu dilakukan melalui organisasi, maka usaha untuk kajian tentang organisasi secara teoretis sangat bermanfaat. Kajian ini bertujuan untuk memahami organisasi sebagai sebuah entitas sosial  atau entitas ekonomi dan anatomi berbagai elemen yang ada di dalamnya. Dengan cara ini, maka perkembangan organisasi bisa dipahami  sisæmatis sehingga organisasi sebagai alat sosial atau sebagai alat bisa bermanfaat dan bekerja secara efektif.
Meskipun organisasi bisa dipahmi secara umum, tetapi dalam realitas  sosial ekonomi masyarakat terdapat banyak perbedaan tipe, bentuk dan  ukuran organisasi. Perbedaan tersebut menimbulkan implikasi yang berbeda pula jika dipakai sebagai alat kelembagaan oleh pelaku-pelaku individu atau kelompok. Dengan demikian, penting sekali untuk memahami seluk-beluk Organisasi secara teoretis ditinjau dari berbagai aspek perbedaan tersebut.
Banyak pandangan dari berbagai ahli ilmu sosial dan ilmu politik dalam mengkaji eksistensi organisasi. Misalnya, pandangan Harold Laski, seorang ahli ilmu politik, asosiasi ada untuk memenuhi tujuannya di mana sekelompok manusia mempunyai tujuan bersama tersebut. Dengan demikian, setiap organisasi lahir dengan tujuan tertentu dan untuk bersama dari individu-individu yang terlibat di dalamnya.
Misalnya, organisasi mahasiswa lahir dengan tujuan untuk memperjuangkan kepentingan belajar, organisasi profesi hukum bertujuan untuk memperjuangkan tegaknya hukum masyarakat, dan sebagainya.Jadi, hampir tidak ada organisasi dibuat tanpa tujuan yang jelas. Sehingga eksistensi organisasi tersebut sama dengan tujuan yang melekat didalamnya. Kelangsungan dari organisasi akhirnya sangat tergantung pada sejauh mana tujuan-tujuan bersama dapat dicapai, termasuk aspek keadilan dan distribusi manfaatnya.
Hal yang sama berlaku untuk organisasi besar seperti sebuah pemerintahan atau negara. Organisasi ini tergolong ekstrem karena ukurannya yang sangat besar dengan tujuan tunggal untuk menjaga eksistensi bersama sebagai bangsa, termasuk banyak tujuan lainnya Penduduknya, sebagai anggota organisasi besar ini, mempunyai tujuan dasar atau cita-cita luhur yang sama sebagai sebuah bangsa.
            Olson memberikan penjelasan tentang organisasi yang tidak lepas dari pandangan-pandangan ahli-ahli ilmu sosial dan ilmu politik sebelumnya. Arthur Bentley yang dianggap sebagai peletak dasar teori kelompok berpendapat bahwa tidak ada organisiasi tanpa kepentingan di dalamnya.Sedangkan ahli psikologi sosial, seperti Raymond Cattell, berpendapat bahwa setiap kelompok mempunyai kepentingan masing-masing.
Kelompok Besar dan Barang Publik. Kombinasi kepentingan individu dan kelompok di dalam suatu organisasi sebenarnya bisa analog dengan pasar yang bersaing. Keunikan dari pendekatan ekonomi rasional atau  mazhab pilihan publik adalah cara pendekatannya yang bersifat transformatif untuk memahami 'kelompok sosial secara lebih dinamis. Teori pasar sebagai sebuah kekayaan paradigma ilmu ekonomi dapat dipakai untuk mémbantu memahami kelompok dari aspek yang lain.
Selama ini, kelompok sosial dipelajari hanya dari sifat-sifatnya yang melekat dan tujuan yang menyatukan anggota-anggotanya. Namun, analisis yang bersifat interaktif tidak dilakukan karena tidak ada teori yang cukup untuk menjélaskan aspek dinamis dari suatu kelompok. Ilmu ekonomi dengan kekayaan paradigma pasar sebagai suatu proses pertukaran memberikan sarana instrumental untuk memahami kelompok sebagai proses pertukaran yang dinamis. Artinya, interaksi antar-perusahaan di dalam pasar sama dengan interaksi anggota-anggota kelompok.
Perusahaan-perusahaan di dalam suatu industri (kumpulan perusahaan sejenis) yang bersaing sempurna mempunyai kepentingan yang sama agar harga hasil produksinya tetap tinggi. Semua perusahaan berusaha untuk Menjaga agar produk yang dihasilkan menurun karena tidak menguntungkan dan membuatnya bangkrut. Sikap seperti ini merupakan watak tergantung dasar dari perusahaan karena eksistensi dan kemajuannya sangat pada harga dan keuntungan yang diperoleh.
Karena harga yang sama dan tercipta secara kolektif di dalam pasar tersebut, maka satu perusahaan tidak mungkin berharap bisa menaikkan harga tanpa yang lain bertindak serupa. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan di dalam industri tersebut juga mempunyai kepentingan yang sama yakni berusaha menjual produknya sebanyak mungkin sampai biaya untuk memproduksi satu unit yang lain tidak melebihi harga satu unit prduk tersebut.
Di dalam kasus ini tidak ada kepentingan bersama (common interests) karena kepentingan satu perusahaan selalu berlawanan dengan kepentingan perusahaan lainnya. Ketika semua perusahaan mempunyai kepentingan bersama dalam hal harga yang lebih tinggi, mereka juga mempunyai kepentingan yang antagonistik dalam kaitannya dengan penjualan produknya sebanyak mungkin dari masing-masing perusahaan. Gambaran ini bisa dilihat dalam grafik penawaran dan permintaan pasar.
Dengan demikian, perusahaan-perusahaan di dalam industri berusaha  memaksimumkan keuntungannya. Sikap ini merupakan watak dasar dari perusahaan di dalam pasar. Akan tetapi, keuntungan bagi industri secara keseluruhan biasanya lebih kecil dari yang diharapkan karena pasar memberi peluang kepada banyak pihak untuk menikmatinya. Dengan
demikian, hanya produsen yang terbaik mendapatkan keuntungan yang baik pula, meskipun tidak sebanyak yang diharapkan.
Inilah fakta teoretis dari suatu pasar yang bersaing sempurna untuk suatu komoditi tertentu. Yang penting diingat bahwa semua perusahaan mempunyai kepentingan bersama untuk membentuk harga yang lebih tinggi bagi produknya, tetapi selalu di bawah bayang-bayang biaya yang harus ditanggung karena masing-masing harus mengurangi produksi atau penjualannya - dalam rangka mencapai harga yang lebih tinggi tersebut.
B.     Perilaku Kolektif
Ahli sosiologi menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada perilaku sekelompok orang yang muncul secara spontan, tidak terstruktur sebagai respons terhadap kejadian tertentu. Perilaku kolektif adalah suatu perilaku yang tidak biasa , sehingga perilaku kolektif dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang relatif spontan, tidak terstruktur dan tidak stabil dari sekelompok orang, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa ketidakpuasan dan kecemasan. Sehingga kita dapat membedakan antara perilaku kolektif dengan perilaku yang rutin. Secara teoritis perilaku kolektif dapat dijelaskan dari berbagai sudut teori antara lain teori penyebaran, teori interaksionis, teori emergent-norm dan teori value-added. Kondisi pokok yang memicu munculnya perilaku kolektif menurut teori value-added adalah: kesesuaian struktural, ketegangan struktural, berkembangnya kepercayaan umum, faktor yang mendahului, mobilisasi dan kontrol sosial.
Horton dan Hunt berpendapat bahwa perilaku kolektif ialah mobilisasi berlandaskan pandangan yang mendefinisikan kembali tindakan sosial, menurut Milgran dan Touch ialah suatu perilaku yang lahir secara spontan, relatif, tidak terorganisasi serta hampir tidak bisa diduga sebelumnya, proses kelanjutannya tidak terencana dan hanya tergantung pada stimulasi timbal balik yang muncul dikalangan para pelakunya, dan senada pula dengan pendapat Robetson .Dapat kami simpulkan dari definisi-definisi tersebut bahwa perilaku kolektif adalah perilaku yang:
(1)   Dilakukan bersama oleh sejumlah orang
(2)   Bersifat spontanitas dan tidak terstruktur
(3)   Tidak bersifat rutin
(4)   Merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
Perilaku kolektif merupakan perilaku menyimpang namun berbeda dengan perilaku menyimpang karena perilaku kolektif merupakan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang, bukan tindakan individu semata-mata. Bila seseorang melakukan pencurian di suatu toko, maka hal ini termasuk suatu perilaku menyimpang, namun bila sejumlah besar orang secara bersama-sama menyerbu toko-toko dan pusat-pusat perdagangan untuk melakukan pencurian atau penjarahan (sebagaimana di sejumah kota di Pulau Jawa pada tahun 1998 dan 1999), maka hal ini termasuk suatu perilaku kolektif. Perilaku kolektif meliputi perilaku kerumunan (crowd) dan gerakan sosial (civil society). Rangsangan yang memicu terjadinya perilaku kolektif bisa bersifat benda, peristiwa maupun ide.


Faktor Penentu Perilaku Kolektif
Perilaku kolektif bisa terjadi dimasyarakat mana saja, baik masyarakat yang sederhana maupun yang kompleks. Menurut teori Le Bon perilaku kolektif dapan ditentukan oleh 6 faktor berikut ini :
a.       Situasi social: Situasi yang menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi tertentu.
b.      Ketegangan structural: Adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan menimbulkan ketegangan yang dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman
c.       Berkembang dan menyebarnya suatu kepercayaan umum: Misalnya : berkembangnya isu-isu tentang pelecehan suatu agama atau penindasan suatu kelompok yang dapat menyinggung kelompok lain
d.      Factor yang mendahului: Yakni factor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang dikandung masyarakat. Misalnya desas-desus isu kenaikan harga BBM, yang diperkuat dengan pencabutan subsidi BBM, hal ini dapat memicu kuat sekelompok orang untuk protes.
e.       Mobilisasi perilaku oleh pemimpin untuk bertindak: Perilaku kolektif akan terwujud apabila khalayak ramai dikomando/dimobilisasikan oleh pimpinannya.
f.        Berlangsungnya suatu pengendalian social: Merupakan hal penentu yang dapat menghambat, menunda bahkan mencegah ke 5 faktor diatas, misalnya : pengendalian polisi dan aparat penegak hukum lainnya.
Dari keenam faktor penentu tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat menyebebkan terjadinya suatu perilaku kolektif

STUDI KASUS
Apakah Mercusuar Merupakan Barang Publik?
            Sebagian barang dapat berubah dari barang publik menjadi barang swasta dan sebaliknya, bergantung pada situasi. Sebagai contoh, pertunjukkan kembang api merupakan barang publik jika diadakan di kota berpenduduk banyak. Akan tetapi, jika diadakan di taman hiburan swasta, seperti Disney World, pertunjukkan kembang api lebih merupakan barang swasta karena pengunjung taman hiburan membayar tiket masuk.
            Contoh lainnya adalah mercusuar. Kalangan ekonomi telah lama menggunakan mercusuar sebagai contoh barang publik. Mercusuar digunakan untuk menandai lokasi tertentu sehingga kapal yang lewat dapat menghindari perairan berbahaya. Manfaat yang diberikan mercusuar kepada kapten kapal tidak ekskludabel dan tidak juga rival, sehingga setiap kapten memiliki keinginan untuk menjadi penumpang gratis dengan menggunakan mercusuar untuk navigasi tanpa harus membayar. Karena masalah penumpang gratis ini, pasar swasta biasanya gagal menyediakan mercusuar yang diperlukan para kapten kapal. Akibatnya, sebagian besar mercusuar dewasa ini dioperasikan oleh pemerintah.
            Namun pada beberapa kasus, mercusuar lebih dekat pada barang swasta. Di pantai Inggris pada abad ke- 19, beberapa mercusuar dimiliki dan dioperasikan secara pribadi. Para pemilik mercusuar tersebut tidak menarik biaya dari para kapten kapal, tetapi menarik biaya dari pemilik pelabuhan tersebut. Jika pemilik pelabuhan tidak membayar, pemilik mercusuar mematikan lampunya dan kapal-kapal pun menghindari pelabuhan tersebut.
            Dalam menentukan apakah suatu barang merupakan barang publik, kita harus menetukan jumlah penerima manfaatnya dan apakah para penerima manfaat ini ekskludabel dari penggunaan barang tersebut. Masalah penumpang gratis muncul apabila penerima manfaat berjumlah banyak dan mustahil mengecualikan salah seorang dari mereka. Jika sebuah mercusuar menguntungkan banyak kapten kapal maka mercusuar itu merupakan barang publik. Namun, jika menguntungkan pemilik tunggal pelabuhan maka mercusuar itu lebih merupakan barang swasta. 

Referensi

1.      Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Ekonomi Politik : Paradigma dan Teori Publik, 2002, Ghalia Indonesia, Jakarta.
2.      Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Ekonomi Politik  dan Teori Pilihan Publik Edisi Kedua, 2006, Ghalia Indonesia, Bogor.
3.      Komsiah, Siti. S.IP, M.Si., Modul Pengantar Sosiologi, Jakarta : Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana, 2010
4.      Razak Yusron. Sosiologi Sebuah Pengantar, Bandung : Gamma Press, 2007


Tidak ada komentar:

Posting Komentar