A. Jenis-Jenis
Barang
Dalam
memandang berbagai jenis barang dalam perekonomian, akan bermanfaat jika
mengelompokkan menurut dua sifat atau karakteristik sebagai berikut.
·
Apakah
barang itu eksludable / daat dikecualikan (excludable).
·
Apakah
barang itu saingan (rival).
Melalui sifat diatas dapat membagi
berbagai barang menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut.
1) Barang
Swasta / Private goods
Merupakan
barang-barang yang bersifat ekskludabel (dapat dikecuaikan dalam pemanfaatanya)
dan rival (merupakan barang saingan dalam pemanfaatanya). Mari kita ambil es
krim sebagai conto. Tentu saja, es krim bersifat ekskludabel karena
terdapat kemungkinan untuk mencegh seseorang agar tidak memakan es krim, cukup
dengan tidak memberinya es krim. Es krim juga merupakan barang rival karena
jika seseorang memakan es krim, orang lain tidak dapat memakan es krim yang
sama.
2) Barang
Publik / Public goods
Merupakan
barang-barang yang tidak (bersifat) ekskludabel dan tidak juga bersifat rival.
Artinya, kita tidak dapat mencegah orang dari menggunakan barang publik dan
penggunaan seseorang atas barang publik tidak menguragi kemampuan orang lain
untuk menggunakannya. Sebagai contoh, alarm angin puting beliung di suatu kota
kecil adalah baran publik. Apabila alarm itu berbunyi, kita tidak mungkin
menghalangi orang lainuntuk mendengarnya. Selain itu, apabila seseorang
memperoleh manfaat dari alarm itu, dia tidak mengurangi manfaat alarm itu bagi
orang lain.
3) Sumber
Daya milik bersama / common resource
Merupakan barang
rival, tetapi tidak eksludable. Sebagai contoh, ikan-ikan dilautan merupakan
barang rival; apabila seseorang menangkap ikan, jumlah ikan yang dapat
ditangkap oleh orang lain menjadi berkurang luasnya lautan, sulit untuk
menghentikan para nelayan dari mengambil ikan.
4) Apabila
suatu barang ekskludabel, namun bukan rival
Maka barang itu
merupakan contoh monopoli alamiah. Contohnya adalah perlindungan kebakaran
disebuah kota kecil. Mudah untuk mencegah orang lain menggunakan barang
ini; Dinas Pemadaman kebakaran cukup membiarkan rumahnya terbakar. Namun,
perlindungan kebakaran bukan barang rival. Para petugas pemadam kebakaran menghabiskan
sebagai besar waktu mereka menunggu terjadinya kebakaran sehingga melindungi
satu rumah lagi kecil kemungkinan mengurangi perlindungan untuk rumah lain.
Dengan kata lain, apabila warga kota telah menggaji dinas pemadam kebakaran,
biaya tambahan untuk melindungi satu rumah lagi pun kecil.
B. Definisi
Barang Publik
Secara umum barang publik biasa dipahami sebagai sesuatu yang dapat dinikmati
atau dibutuhkan oleh semua orang. Suatu barang publik merupakan barang-barang
yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang
tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Barang publik adalah
barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi
konsumsi orang lain akan barang tersebut.
Barang publik memiliki
sifat non-rival dan non-eksklusif. Ini berarti konsumsi atas barang tersebut
oleh suatu individu tidak akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk
dikonsumsi oleh individu lainnya dan non-eksklusif berarti semua orang
berhak menikamti manfaat dari barang tersebut. Contoh barang publik ini
diantaranya udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu lalu lintas,
pertahanan nasional, pemerintahan dan sebagainya. Akan sulit untuk menentukan
siapa saja yang boleh menggunakan papan marka jalan misalnya, karena
keberadaannya memang untuk konsumsi semua orang.
Barang publik sempurna (pure public goods) adalah barang yang harus disediakan
dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Barang
publik hampir sama dengan barang kolektif. Bedanya, barang publik adalah untuk
masyarakat secara umum (keseluruhan), sementara barang kolektif dimiliki oleh
satu bagian dari masyarakat (satu komunitas yang lebih kecil) dan hanya berhak
digunakan secara umum oleh komunitas tersebut.
C. Sifat-Sifat
Barang Publik
Barang publik memiliki dua sifat atau dua
aspek yang terkait dengan penggunaannya, yaitu :
Ø
Non-rivalry
Berarti bahwa penggunaan
satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi kesempatan konsumen
lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat mengambil
manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang
lain. Contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan
sinar matahari, orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat
yang sama.
Ø
Non-excludable
Berarti bahwa apabila
suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi siapapun untuk
memperoleh manfaat dari barang tersebut. Dalam konteks pasar, maka baik mereka
yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Contoh,
masyarakat membayar pajak kemudian diantaranya digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan jasa kepolisian, dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut
tidak hanya terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar
pun dapat mengambil menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang
dapat dikecualikan (excludable) dalam mengambil manfaat atas barang publik.
D. Perbedaan
barang publik dengan barang yang lain
Ø
Non-eksklusivitas
Salah satu sifat yang membedakan barang publik dengan
barang lain adalah apakah orang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut
atau tidak. Bagi kebanyakan barang pribadi, pengecualian tentu saja sangat
dimungkinkan. Pertahanan nasional merupakan contoh standar. Sekali suatu
angkatan bersenjata dibentuk, setiap orang di suatu negara tersebut
diuntungkan, apakah dia membayar atau tidak. Barang noneksklusif ini dapat
dilawan dengan barang konsumsi pribadi yang eksklusif, seperti mobil atau film
dimana pengecualian-pengecualian merupakan suatu masalah sederhana. Mereka yang
tidak membayar barang pribadi tersebut tidak menerima jasa yang dijanjikan oleh
barang tersebut.
Ø
Non-rivalitas
Sifat kedua yang menjadi
karakter dari barang-barang publik adalah nonrivalitas. Barang-barang
nonrivalitas adalah barang dimana manfaatnya dapat diberikan bagi pengguna
tambahan dengan biaya marjinal nol. Pada sebagian besar barang, tambahan jumlah
konsumsi membutuhkan sejumlah biaya produksi marjinal. Misalkan tambahan pemirsa
pada satu saluran televisi tidak akan menambah biaya meskipun tindakan ini
menyebabkan terjadinya tambahan konsumsi. Konsumsi oleh tambahan pengguna dari
barang semacam itu adalah nonrivalitas/nonpersaingan sehingga tambahan konsumsi
tersebut membutuhkan biaya marjinal sosial dari produksi sebesar nol, konsumsi
tersebut tidak mengurangi kemampuan orang lain untuk mengkonsumsi.
E. Barang
Publik yang Penting
Ø
Pertahanan Nasional
Jika suatu negara
berhasil dipertahankan, tidak ada seorang pun yang bisa dicegah untuk menikmati
manfaatnya. Ketika seseorang menikmati manfaatnya, manfaat yang dirasakan oleh
orang lain tidak akan berkurang. Oleh sebab itu, pertahanan nasional tidak
bersifat ekskludabel maupun rival.
Ø
Penelitian ilimu pengetahuan
Jika seorang matematikawan
menemukan sebuah teorima baru, maka teorima tersebut akan masuk kedalam ilmu
pengetahuan yang boleh dimanfaatkan siapa saja secara gratis. Karena
pengetahuan adalah barang publik, maka perusahaan-perusahaan swasta yang
mencari keuntungan cenderung untuk menumpang gratis pada pengetahuan yang
ditemukan oleh pihak lain, dan hasilnya, perusahan-perusahaan ini
mengalokasikan sumber-sumber daya yang terlalu sedikit untuk menciptakan
pengetahuan baru. Dengan hak paten, penemuannya bisa menikmati sendiri sebagian
besar manfaatnya sampai batas waktu tertentu. Sebaliknya, seorang matematikawan
tidak dapat mematenkan teorimanya karena pengetahuan umum seperti itu dapat
digunakan oleh siapa saja dengan gratis. Dengan kata lain, berkat adanya
undang-undang hak paten, pengetahuan spesifik dan teknis sifatnya ekskludabel,
sedangkan pengetahuan umum tidak bisa dijadikan ekskludabel.
Ø
Pengentasan Kemiskinan
Sistem kesejahteraan
bersama memberikan sedikit uang kepada keluarga miskin. Begitu juga, program
makanan murah ditujukan untuk mengurangi biaya pembelian makanan bagi keluarga
miskin berbagai program tempat tinggal dari pemerintah membuat harga tempat
tinggal lebih terjangkau. Program-program anti kemiskinan ini dibiayai oleh
pajak yang dipungut permerintah dari keluarga atau individu yang sukses secara
finansial.
TEORI
ORGANISASI DAN PERILAKU KOLEKTIF
Meskipun organisasi bisa
dipahami secara umum, tetapi dalam realitas sosial ekonomi masyarakat terdapat
banyak perbedaan tipe, bentuk, dan ukuran organisasi. Perbedaan tersebut
menimbulkan implikasi yang berbeda jika dipakai sebagai alat kelembagaan oleh
pelaku individu atau kelompok. Dengan demikian, setiap organisasi lahir dengan
tujuan tertentu dan untuk kepentingan bersama dari individu-individu yang terlibat
di dalamnya.
Negara sebagai sebuah
organisasi juga mempunyai tujuan mewujudkan cita-cita suatu bangsa. Dalam
sistem keuangan, negara mempunyai kekuatan memaksa atas dasar hukum dan
perundang-undangan yang dibuat untuk mewajibkan warganya membayar pajak. Warga
negara wajib membayar pajak karena negara pun menyediakan layanan-layanan
publik yang bersifat mutlak seperti pertahanan keamanan, layanan birokrasi, dan
sebagainya.
Dari dasar berpikir
seperti ini, analisis selanjutnya sampai pada konsep dasar yang disebut barang
publik, yaitu manfaat bersama yang disediakan oleh negara. Konsep ini menjadi
dasar pemikiran bagaimana seharusnya negara mengalokasikan sumber keuangannya
secara efektif (study of public finance). Negara mempunyai kewajiban
menyediakan barang publik, setelah masyarakat membayar pajak.
A. Tujuan
Organisasi dan Teori Kelompok
Tujuan
Organisasi. Karena kebanyakan
tindakan yang diambil oleh kelompok individu dilakukan melalui organisasi, maka
usaha untuk kajian tentang organisasi secara teoretis sangat bermanfaat. Kajian
ini bertujuan untuk memahami organisasi sebagai sebuah entitas sosial atau entitas ekonomi dan anatomi berbagai
elemen yang ada di dalamnya. Dengan cara ini, maka perkembangan organisasi bisa
dipahami sisæmatis sehingga organisasi
sebagai alat sosial atau sebagai alat bisa bermanfaat dan bekerja secara
efektif.
Meskipun organisasi bisa
dipahmi secara umum, tetapi dalam realitas
sosial ekonomi masyarakat terdapat banyak perbedaan tipe, bentuk
dan ukuran organisasi. Perbedaan tersebut
menimbulkan implikasi yang berbeda pula jika dipakai sebagai alat kelembagaan
oleh pelaku-pelaku individu atau kelompok. Dengan demikian, penting sekali
untuk memahami seluk-beluk Organisasi secara teoretis ditinjau dari berbagai aspek
perbedaan tersebut.
Banyak pandangan dari
berbagai ahli ilmu sosial dan ilmu politik dalam mengkaji eksistensi
organisasi. Misalnya, pandangan Harold Laski, seorang ahli ilmu politik,
asosiasi ada untuk memenuhi tujuannya di mana sekelompok manusia mempunyai tujuan
bersama tersebut. Dengan demikian, setiap organisasi lahir dengan tujuan
tertentu dan untuk bersama dari individu-individu yang terlibat di dalamnya.
Misalnya, organisasi
mahasiswa lahir dengan tujuan untuk memperjuangkan kepentingan belajar, organisasi
profesi hukum bertujuan untuk memperjuangkan tegaknya hukum masyarakat, dan
sebagainya.Jadi, hampir tidak ada organisasi dibuat tanpa tujuan yang jelas. Sehingga
eksistensi organisasi tersebut sama dengan tujuan yang melekat didalamnya.
Kelangsungan dari organisasi akhirnya sangat tergantung pada sejauh mana
tujuan-tujuan bersama dapat dicapai, termasuk aspek keadilan dan distribusi
manfaatnya.
Hal yang sama berlaku untuk
organisasi besar seperti sebuah pemerintahan atau negara. Organisasi ini tergolong
ekstrem karena ukurannya yang sangat besar dengan tujuan tunggal untuk menjaga eksistensi
bersama sebagai bangsa, termasuk banyak tujuan lainnya Penduduknya, sebagai anggota
organisasi besar ini, mempunyai tujuan dasar atau cita-cita luhur yang sama sebagai
sebuah bangsa.
Olson memberikan penjelasan tentang
organisasi yang tidak lepas dari pandangan-pandangan ahli-ahli ilmu sosial dan
ilmu politik sebelumnya. Arthur Bentley yang dianggap sebagai peletak dasar
teori kelompok berpendapat bahwa tidak ada organisiasi tanpa kepentingan di
dalamnya.Sedangkan ahli psikologi sosial, seperti Raymond Cattell, berpendapat bahwa
setiap kelompok mempunyai kepentingan masing-masing.
Kelompok Besar dan Barang
Publik. Kombinasi
kepentingan individu dan kelompok di dalam suatu organisasi sebenarnya bisa
analog dengan pasar yang bersaing. Keunikan dari pendekatan ekonomi rasional atau mazhab pilihan publik adalah cara
pendekatannya yang bersifat transformatif untuk memahami 'kelompok sosial
secara lebih dinamis. Teori pasar sebagai sebuah kekayaan paradigma ilmu
ekonomi dapat dipakai untuk mémbantu memahami kelompok dari aspek yang lain.
Selama ini, kelompok
sosial dipelajari hanya dari sifat-sifatnya yang melekat dan tujuan yang
menyatukan anggota-anggotanya. Namun, analisis yang bersifat interaktif tidak
dilakukan karena tidak ada teori yang cukup untuk menjélaskan aspek dinamis
dari suatu kelompok. Ilmu ekonomi dengan kekayaan paradigma pasar sebagai suatu
proses pertukaran memberikan sarana instrumental untuk memahami kelompok
sebagai proses pertukaran yang dinamis. Artinya, interaksi antar-perusahaan di dalam
pasar sama dengan interaksi anggota-anggota kelompok.
Perusahaan-perusahaan di
dalam suatu industri (kumpulan perusahaan sejenis) yang bersaing sempurna
mempunyai kepentingan yang sama agar harga hasil produksinya tetap tinggi. Semua
perusahaan berusaha untuk Menjaga agar produk yang dihasilkan menurun karena
tidak menguntungkan dan membuatnya bangkrut. Sikap seperti ini merupakan watak
tergantung dasar dari perusahaan karena eksistensi dan kemajuannya sangat pada
harga dan keuntungan yang diperoleh.
Karena harga yang sama
dan tercipta secara kolektif di dalam pasar tersebut, maka satu perusahaan
tidak mungkin berharap bisa menaikkan harga tanpa yang lain bertindak serupa.
Akan tetapi, perusahaan-perusahaan di dalam industri tersebut juga mempunyai
kepentingan yang sama yakni berusaha menjual produknya sebanyak mungkin sampai
biaya untuk memproduksi satu unit yang lain tidak melebihi harga satu unit
prduk tersebut.
Di dalam kasus ini tidak
ada kepentingan bersama (common interests) karena kepentingan satu perusahaan
selalu berlawanan dengan kepentingan perusahaan lainnya. Ketika semua
perusahaan mempunyai kepentingan bersama dalam hal harga yang lebih tinggi, mereka
juga mempunyai kepentingan yang antagonistik dalam kaitannya dengan penjualan
produknya sebanyak mungkin dari masing-masing perusahaan. Gambaran ini bisa
dilihat dalam grafik penawaran dan permintaan pasar.
Dengan demikian,
perusahaan-perusahaan di dalam industri berusaha memaksimumkan keuntungannya. Sikap ini merupakan
watak dasar dari perusahaan di dalam pasar. Akan tetapi, keuntungan bagi
industri secara keseluruhan biasanya lebih kecil dari yang diharapkan karena
pasar memberi peluang kepada banyak pihak untuk menikmatinya. Dengan
demikian, hanya produsen yang terbaik mendapatkan keuntungan yang baik pula, meskipun tidak sebanyak yang diharapkan.
demikian, hanya produsen yang terbaik mendapatkan keuntungan yang baik pula, meskipun tidak sebanyak yang diharapkan.
Inilah fakta teoretis
dari suatu pasar yang bersaing sempurna untuk suatu komoditi tertentu. Yang
penting diingat bahwa semua perusahaan mempunyai kepentingan bersama untuk
membentuk harga yang lebih tinggi bagi produknya, tetapi selalu di bawah
bayang-bayang biaya yang harus ditanggung karena masing-masing harus mengurangi
produksi atau penjualannya - dalam rangka mencapai harga yang lebih tinggi
tersebut.
B.
Perilaku Kolektif
Ahli sosiologi
menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada perilaku sekelompok orang
yang muncul secara spontan, tidak terstruktur sebagai respons terhadap kejadian
tertentu. Perilaku kolektif adalah suatu perilaku yang tidak biasa , sehingga
perilaku kolektif dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang relatif spontan,
tidak terstruktur dan tidak stabil dari sekelompok orang, yang bertujuan untuk
menghilangkan rasa ketidakpuasan dan kecemasan. Sehingga kita dapat membedakan
antara perilaku kolektif dengan perilaku yang rutin. Secara teoritis perilaku
kolektif dapat dijelaskan dari berbagai sudut teori antara lain teori
penyebaran, teori interaksionis, teori emergent-norm dan teori value-added.
Kondisi pokok yang memicu munculnya perilaku kolektif menurut teori value-added
adalah: kesesuaian struktural, ketegangan struktural, berkembangnya kepercayaan
umum, faktor yang mendahului, mobilisasi dan kontrol sosial.
Horton dan Hunt
berpendapat bahwa perilaku kolektif ialah mobilisasi berlandaskan pandangan
yang mendefinisikan kembali tindakan sosial, menurut Milgran dan Touch ialah
suatu perilaku yang lahir secara spontan, relatif, tidak terorganisasi serta
hampir tidak bisa diduga sebelumnya, proses kelanjutannya tidak terencana dan
hanya tergantung pada stimulasi timbal balik yang muncul dikalangan para
pelakunya, dan senada pula dengan pendapat Robetson .Dapat kami simpulkan dari
definisi-definisi tersebut bahwa perilaku kolektif adalah perilaku yang:
(1)
Dilakukan
bersama oleh sejumlah orang
(2)
Bersifat
spontanitas dan tidak terstruktur
(3)
Tidak
bersifat rutin
(4)
Merupakan
tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
Perilaku kolektif
merupakan perilaku menyimpang namun berbeda dengan perilaku menyimpang karena
perilaku kolektif merupakan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang, bukan
tindakan individu semata-mata. Bila seseorang melakukan pencurian di suatu
toko, maka hal ini termasuk suatu perilaku menyimpang, namun bila sejumlah
besar orang secara bersama-sama menyerbu toko-toko dan pusat-pusat perdagangan
untuk melakukan pencurian atau penjarahan (sebagaimana di sejumah kota di Pulau
Jawa pada tahun 1998 dan 1999), maka hal ini termasuk suatu perilaku kolektif.
Perilaku kolektif meliputi perilaku kerumunan (crowd) dan gerakan sosial (civil
society). Rangsangan yang memicu terjadinya perilaku kolektif bisa bersifat
benda, peristiwa maupun ide.
Faktor Penentu Perilaku Kolektif
Perilaku kolektif bisa
terjadi dimasyarakat mana saja, baik masyarakat yang sederhana maupun yang
kompleks. Menurut teori Le Bon perilaku kolektif dapan ditentukan
oleh 6 faktor berikut ini :
a.
Situasi
social: Situasi yang menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi
tertentu.
b.
Ketegangan
structural: Adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan
menimbulkan ketegangan yang dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman
c.
Berkembang
dan menyebarnya suatu kepercayaan umum: Misalnya : berkembangnya isu-isu
tentang pelecehan suatu agama atau penindasan suatu kelompok yang dapat
menyinggung kelompok lain
d.
Factor
yang mendahului: Yakni factor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang
dikandung masyarakat. Misalnya desas-desus isu kenaikan harga BBM, yang
diperkuat dengan pencabutan subsidi BBM, hal ini dapat memicu kuat sekelompok
orang untuk protes.
e.
Mobilisasi
perilaku oleh pemimpin untuk bertindak: Perilaku kolektif akan terwujud apabila
khalayak ramai dikomando/dimobilisasikan oleh pimpinannya.
f.
Berlangsungnya
suatu pengendalian social: Merupakan hal penentu yang dapat menghambat, menunda
bahkan mencegah ke 5 faktor diatas, misalnya : pengendalian polisi dan aparat
penegak hukum lainnya.
Dari keenam faktor penentu tersebut
merupakan suatu rangkaian yang dapat menyebebkan terjadinya suatu perilaku
kolektif
STUDI
KASUS
Apakah Mercusuar Merupakan Barang Publik?
Sebagian barang dapat berubah dari barang publik menjadi barang swasta dan
sebaliknya, bergantung pada situasi. Sebagai contoh, pertunjukkan kembang api
merupakan barang publik jika diadakan di kota berpenduduk banyak. Akan tetapi,
jika diadakan di taman hiburan swasta, seperti Disney World, pertunjukkan
kembang api lebih merupakan barang swasta karena pengunjung taman hiburan
membayar tiket masuk.
Contoh lainnya adalah mercusuar. Kalangan ekonomi telah lama menggunakan
mercusuar sebagai contoh barang publik. Mercusuar digunakan untuk menandai
lokasi tertentu sehingga kapal yang lewat dapat menghindari perairan berbahaya.
Manfaat yang diberikan mercusuar kepada kapten kapal tidak ekskludabel dan
tidak juga rival, sehingga setiap kapten memiliki keinginan untuk menjadi
penumpang gratis dengan menggunakan mercusuar untuk navigasi tanpa harus
membayar. Karena masalah penumpang gratis ini, pasar swasta biasanya gagal
menyediakan mercusuar yang diperlukan para kapten kapal. Akibatnya, sebagian
besar mercusuar dewasa ini dioperasikan oleh pemerintah.
Namun pada beberapa kasus, mercusuar lebih dekat pada barang swasta. Di pantai
Inggris pada abad ke- 19, beberapa mercusuar dimiliki dan dioperasikan secara
pribadi. Para pemilik mercusuar tersebut tidak menarik biaya dari para kapten
kapal, tetapi menarik biaya dari pemilik pelabuhan tersebut. Jika pemilik
pelabuhan tidak membayar, pemilik mercusuar mematikan lampunya dan kapal-kapal
pun menghindari pelabuhan tersebut.
Dalam menentukan apakah suatu barang merupakan barang publik, kita harus
menetukan jumlah penerima manfaatnya dan apakah para penerima manfaat ini
ekskludabel dari penggunaan barang tersebut. Masalah penumpang gratis muncul
apabila penerima manfaat berjumlah banyak dan mustahil mengecualikan salah
seorang dari mereka. Jika sebuah mercusuar menguntungkan banyak kapten kapal
maka mercusuar itu merupakan barang publik. Namun, jika menguntungkan pemilik
tunggal pelabuhan maka mercusuar itu lebih merupakan barang swasta.
Referensi
1.
Prof.
Dr. Didik J. Rachbini, Ekonomi Politik :
Paradigma dan Teori Publik, 2002, Ghalia Indonesia, Jakarta.
2.
Prof.
Dr. Didik J. Rachbini, Ekonomi
Politik dan Teori Pilihan
Publik
Edisi Kedua, 2006, Ghalia
Indonesia, Bogor.
3.
Komsiah, Siti.
S.IP, M.Si., Modul Pengantar Sosiologi, Jakarta : Pusat
Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana, 2010
4.
Razak Yusron. Sosiologi
Sebuah Pengantar, Bandung : Gamma Press, 2007