A.
Pengertian
Empirisme
Kata
empirisme berasal dari bahasa Yunani emperia yang berarti pengalaman. Jadi
empirisme merupakan sebuah paham yang menganggap bahwa pengalaman adalah sumber
pengetahuan. Empirisme juga berarti sebuah paham yang menganggap bahwa
pengalaman manusia didapat dari pengalaman-pengalaman yang nyata dan faktual.
Pengalaman yang nyata tersebut didapatkan dari tangkapan pancaindra manusia.
Sehingga pengetahuan yang didapat melalui pengalaman merupakan sebuah kumpulan
fakta-fakta.
Doktrin empirisme tersebut adalah lawan dari rasionalisme.
Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak
diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera
manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain,
kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Ajaran-ajaran
pokok dari empirisme, yaitu:
1.
Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan
menggabungkan apa yang dialami.
2.
Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau
rasio.
3.
Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4.
Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak
langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan
matematika).
5.
Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas
tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal
budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
6.
Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan.
B.
Profil
John Locke
John Locke
adalah filosof yang berasal dari Inggris. Beliau dilahirkan di Wrington Somerst
pada tanggal 29 Agustus 1632. Locke belajar di Westminster School selama lima
tahun yaitu pada tahun 1647-1652 Pada tahun itu juga hingga tahun 1656 ia
melanjutkan studinya di Christ Church, Oxford untuk mempelajari agama dan
mendapat gelar B.A. disana. Kemudian ia melanjutkan studinya lagi untuk
mendapatkan gelar M.A.
Tahun
1664 Locke diangkat sebagai pejabat penyensor buku-buku filsafat moral. Ia juga
belajar ilmu kedokteran dan mahir dalam bidang ini. Pada tahun 1665 bersama Sir
Walter Vane ia mengikuti sebuah misi diplomatik ke Elector Of Brandenburg
tetapi kemudian ia menolak tawaran kerja diplomat dan kembali ke Oxford. Di
sana ia mengonsentrasikan seluruh perhatiannya pada filsafat dan menemukan
minat yang sama pada Earl of Shaftesbury yang mengundang Locke untuk tinggal di
London house-nya. Di sana Locke mengembangkan ilmu politik dan filsafat
sekaligus menjadi dokter pribadi bangsawan Earl of Shaftesbury. Pada tahun 1683
Shaftesbury terancam akan di-impeacchment karena telah melakukan pengkhianatan.
Pada saat itu juga Locke lari ke Belanda dan di sana ia menulis esai yang
berjudul An Essay Concerning Human Understanding yang diterbitkan pada tahun
1690. Setelah revolusi tahun 1688, Locke kembali ke Inggris untuk mengiringi
raja Orange yang akan menjadi Queen Mary.
Setelah
tahun 1690, kesehatan Locke menurun, tetapi beliau masih terus menulis dan
melaksanakan tugas-tugasnya. Selama tiga belas tahun terakhir, ia tinggal di
Oates dan ia meninggal di sana pada tanggal 28 Oktober 1704.
Karya-karya John Locke, antara lain:
1. A letter Concerning Toleration
(Karangan-karangan tentang toleransi) pada tahun 1689.
2. An Essay Concerning Human
Understanding ( Karangan tentang pengertian manusiawi) pada tahun 1690.
3. Two Treatises of Government (Dua
karangan tentang pemerintahan) pada tahun 1690.
C.
Empirisme John Locke
Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat
penting dalam epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka
seseorang akan berwarna pandangan atau paham filsafatnya. Jawaban yang paling
sederhana tentang terjadinya pengetahuan ini apakah berfilsafat apriori atau aposteriori.
Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui
pengalaman, baik pengalaman indera maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan
aposteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan
demikian, pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif.
Menurut Josep Hospers dalam bukunya An
Introduction to Philosophical Analysismengemukakan ada enam alat untuk
memperoleh pengetahuan, yaitu:
1. Pengalaman
Indera (sense experience).
2. Nalar
(reason).
3. Otoritas
(authority).
4. Intuisi
(intuition).
5. Wahyu
(revelation).
6. Keyakinan
(faith).
Dalam pembahasan ini, akan dikemukakan suatu aliran filsafat yang disebut
dengan Empirisme, yaitu suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan
pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal, serta
seorang tokohnya yang bernama John Locke dan teori pengetahuannya
Aliran Empirisme muncul sebagai reaksi terhadap aliran
rasionalisme. Bila rasionalisme mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka
menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca
indera.
John Locke,
sebagai tokoh paling awal dalam urutan empirisme Inggris, merupakan sosok yang
paling konservatif Ia merasa menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh
Descartes sehingga ia menolak anggapan Descartes yang menyatakan keunggulan
dari “yang dipahami” adalah “yang dirasa”. Ia hanya menerima pemikiran
matematis yang pasti dan penarikan dengan cara metode induksi.
Secara
menarik Locke membandingkan budi manusia pada saat lahir dengan tabula rasa,
yaitu sebuah papan kosong yang belum tertulis apapun, yang artinya segala
sesuatu yang ada dalam pikiran berasal dari pengalaman inderawi, tidak dari
akal budi. Otak itu seperti sehelai kertas yang masih putih dan baru melalui
pengelaman inderawi itu sehelai kertas itu diisi. Dengan ini beliau tidak hanya
mau menyingkirkan gagasan mengenai “ide bawaan”, tetapi juga untuk
mempersiapkan penjelasan bagaimana arti disusun oleh kerja keras data sensoris
(indrawi). Locke mengatakan bahwa tidak ada ide yang diturunkan, sehingga dia
menolak innate idea atau ide bawaan. Menurut Locke semua ide diperoleh dari
pengalaman, dan terdiri atas dua macam, yaitu:
1.
Ide ide Sensasi, yang diperoleh dari pancaindra seperti, melihat, mendengar,
dan lain-lain.
2.
Ide-ide Refleksi yang diperoleh dari berbagai kegiatan budi seperti berpikir,
percaya, dan sebagainya.
Jadi
menurut Locke, apa yang kita ketahui adalah “ide”.
Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka sadar akan
benda-benda. Tetapi menurut Locke objek kesadaran adalah ide. Ide adalah “objek
akal seawktu seseorang berpikir, saya telah menggunakannya utnuk menyatakan apa
saja yang dimaksud dengan fantasnya, maksud species, atau apa saja yang
digunakan budi untuk berpikir….”(Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi
1994).Locke juga mengatakan bahwa ide adalah “objek langsung dari persepsi”
(Sterling Lamperch 1928 dalam Hardono Hadi 1994).
a.
Tentang Negara
Pandangan Locke tentang negara
terdapat dalam bukunya yang berjudul “Dua Tulisan tentang Pemerintahan” (Two
Treatises of Civil Government).Ia menjelaskan pandangannya itu dengan
menganalisis tahap-tahapperkembangan masyarakat.Locke membagi
perkembangan masyarakat menjadi tiga, yakni keadaan alamiah (the
state of nature), keadaan perang (the state of war),
dan Negara (commonwealth).
Tahap keadaan alamiah adalah tahap
dimana manusia memiliki hubungan harmonis, memiliki kebebasan dan kesamaan hak
yang sama.Setiap manusia bebas menentukan dirinya dan menggunakan apa yang
dimilikinya tanpa terjadi kekacauan karena telah patuh terhadap ketentuan hukum
kodrat yang diberikan olehTuhan.Hukum kodrat dari Tuhan menurut
Locke adalah larangan untuk merusak dan memusnahkan kehidupan, kebebasan, dan
harta milik orang lain. Dengan demikian, Locke menyebut ada hak-hak
dasariah yang terikat di dalam kodrat setiap manusia dan merupakan pemberian
Allah. Konsep ini serupa dengan konsep Hak Asasi Manusia (HAM) di dalam masyarakat
modern.
Tahap kedua adalah Keadaan Perang.Locke menyebutkan bahwa ketika keadaan alamiah
telah mengenal hubungan-hubungan sosial maka situasi harmoni mulai berubah.
Penyebab utamanya adalah terciptanya uang. Uang dapat membuat manusia lupa
akan keadaan alamiah nya dimana mereka hanya mencari nafkah untuk sekedar
konsumsi.Dengan adanya uang, manusia berlomba – lomba membuat dirinya kaya. Ketidaksamaan
harta kekayaan membuat manusia mengenal status tuan-budak, majikan-pembantu,
dan status-statuslainnya.Untuk mempertahankan harta miliknya, manusia
menjadi iri, saling bermusuhan, dan bersaing.Masing-masing berusaha untuk
mempertahankan miliknya sendiri.Keadaan alamiah yang harmonis dan penuh damai
tersebut kemudian berubah menjadi permusuhan, kedengkian, kekerasan, dan saling
menghancurkan. Situasi seperti ini berpotensi memusnahkan kehidupan manusia
jika tidak ada jalan keluar nya.
Tahap yang ketiga adalah tahap
Terbentuknya Negara. Untuk menciptakan jalan keluar dari keadaan perang sambil
menjamin milik pribadi, maka masyarakat sepakat untuk mengadakan “perjanjian
asal”. Inilah saat lahirnya negara persemakmuran (commonwealth).Dengan
demikian, tujuan berdirinya negara bukanlah untuk menciptakan kesamarataan
setiap orang, melainkan untuk menjamin dan melindungi milik pribadi setiap
warga negara yang mengadakan perjanjian tersebut. Di dalam perjanjian tersebut,
masyarakat memberikan dua kekuasaan penting yang mereka miliki di dalam keadaan
alamiah kepada negara.Kedua kuasa tersebut adalah
hak untuk menentukan bagaimana setiap manusia mempertahankan diri, dan hak
untuk menghukum setiap pelanggar hukum kodrat yang berasal dari Tuhan.Ajaran
Locke ini menghasilkan dua keputusan yaitu:
·
Kekuasaan negara pada dasarnya adalah terbatas dan tidak
mutlak sebab kekuasaannya berasal dari warga masyarakat yang mendirikannya.
Jadi, negara hanya dapat bertindak dalam batas-batas yang ditetapkan masyarakat
terhadapnya.
·
Tujuan pembentukan negara adalah untuk menjamin hak-hak
asasi warga, terutama hak warga atas harta miliknya. Untuk tujuan inilah, warga
bersedia melepaskan kebebasan mereka dalam keadaan alamiah yang diancam bahaya
perang untuk bersatu di dalam negara.
John Locke juga terkenal dengan
teori Pembatasan Kekuasaan Negara. Menurut Locke Pembatasan Negara dapat
dilakukan melalui 2 cara, yaitu: Cara pertama adalah dengan membentuk
konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang ditentukan oleh Parlemenberdasarkan prinsip mayoritas.Cara kedua adalah adanya pembagian kekuasaan
dalam tiga unsur atau lebih dikenal dengan sebutan Trias Politika yaitu
pembagian kekuasaan berdasarkan legislatif, eksekutif, dan federatif.
Di dalam sistem kenegaraan Locke di
atas, tetap ada kemungkinan penyalahgunaan wewenang oleh pihak-pihak yang
berkuasa atas rakyat. Oleh karena itu, menurut Locke, rakyat memiliki hak untuk
mengadakan perlawanan dan menyingkirkan pihak eksekutif dengan kekerasan bila
mereka telah bertindak di luar wewenang mereka.Disini, rakyat
merebut kembali hak yang telah mereka berikan.
b.
Tentang Agama
Locke ber anggapan bahwa agama
Kristen adalah agama yang paling masuk akal dibandingkan agama-agama lain,
karena ajaran-ajaran Kristen dapat dibuktikan oleh akal manusia.Pengertian
tentang Allahjuga disusun oleh
pembuktian-pembuktian. Locke berangkat dari kenyataan bahwa manusia adalah
makhluk berakal budi, sehingga pastilah disebabkan karena adanya ‘Tokoh
Pencipta’ yang mutlak dan maha kuasa, yaitu Allah.Ia meyakini
bahwa Alkitab ditulis oleh ilham Ilahi, namun ia juga menyatakan bahwa setiap
wahyu Ilahi haruslah diuji oleh rasio manusia.
c.
Tentang Hubungan Negara dan Agama
Pandangan Locke yang masih berhubungan dengan konsep Negara
adalah tentang hubungan antara agama dan negara. Hal ini terdapat dalam
tulisannya yang berjudul ‘Surat-Surat Mengenai Toleransi’ (Letters of
Toleration).Locke menyatakan bahwa perlu ada pemisahan tegas antara urusan
agama dan urusan negara sebab tujuan masing-masing sudah berbeda.
Negara tidak boleh menganut agama apapun, apalagi jika
membatasi atau meniadakan suatu agama. Tujuan negara adalah melindungi hak-hak
dasar warganya di dunia ini sedangkan tujuan agama adalah mengusahakan
keselamatan jiwa manusia untuk kehidupan abadi
di akhirat kelak setelah kematian. Jadi, negara berfungsi untuk memelihara
kehidupan di dunia sekarang, sedangkan agama berfungsi untuk menjalankan ibadah kepada Tuhan dan mencapai
kehidupan kekal.
Agama adalah urusan pribadi, berbeda
dengan negara yang merupakan urusan masyarakat umum. Pemisahan antara keduanya
haruslah ditegaskan, dan masing-masing tidak boleh mencampuri urusan yang lain.
Negara tidak boleh mencampuri urusan keyakinan religius manusia, sedangkan
agama tidak boleh melakukan sesuatu yang dapat menghalangi atau menggagalkan
pelaksanaan tujuan negara. Bila negara hendak menghalangi kebebasan beragama
dari warganya, maka rakyat berhak untuk melawan.
d.
Faktor-faktor filsafat John Locke
tentang empirisme
Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam
sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Ia
berupaya menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuannya.
Menurut Locke, seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi
ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaumrasionalis yang mengatakan sumber
pengetahuan manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia.
Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia
memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum
seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum
berfungsi atau masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah
kertas putih atau tabula
rasa yang
kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu.
Tabula rasa
adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa “kertas kosong” tanpa
aturan untuk memroses data, dan data yang ditambahkan serta
aturan untuk memrosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya.
Pendapat ini merupakan inti dari empirisme Lockean. Anggapan Locke,
tabula rasa berarti bahwa pikiran individu “kosong” saat lahir, dan juga
ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap
individu bebas mendefinisikan isi dari karakternya - namun identitas dasarnya
sebagai umat manusia tidak bisa ditukar. Dari asumsi tentang jiwa yang bebas
dan ditentukan sendiri serta dikombinasikan dengan kodrat manusia inilah lahir doktrin
Lockean tentang apa yang disebut alami. Rasio manusia hanya berfungsi untuk
mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber
utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman.
Lebih
lanjut, Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni pengalaman
lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal
sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap
aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca
indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki
kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara ‘mengingat’, ‘menghendaki’,
‘meyakini’, dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan
membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.
Di dalam
proses terbentuknya pandangan-pandangan sederhana ini, rasio atau pikiran
manusia bersifat pasif atau belum berfungsi. Setelah pandangan-pandangan
sederhana ini tersedia, baru rasio atau pikiran bekerja membentuk
‘pandangan-pandangan kompleks’ (complex ideas). Rasio bekerja membentuk
pandangan kompleks dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan
menghubung-hubungkan pandangan-pandangan sederhana tersebut.
D.
Teori Pengetahuan John Locke
a.
Pengertian Pengetahuan
Hubungan antara pengetahuan dengan
berfikir adalah pasti dan tak dapat dipisahkan. Kita mengetahui karena kita
berfikir. Berfikir adalah kerja akal yang merupakan wadah dari idea-idea. Lock mendefinisikan
pengetahuan sebagai pemahaman terhadap adanya kesesuaian, atau perbedaan
antara idea-idea. Jadi, apabila didapati pemahaman seperti ini, berarti ada
pengetahuan, jika tidak, maka tidak ada pengetahuan
b.
Pengetahuan Itu Aposteriori
Buku Locke, An Essay Cocerning Human
Understanding (1689), ditulis berdasarkan suatu premis, yaitu semua
pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan
idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada
idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain, Locke
menolak adanya innate idea; termasuk apa yang diajarkan oleh
Descartes,Clear and distinc idea. Adequate idea dari
Spinoza, truth of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya.
Yang innate (bawaan) itu tidak ada. Inilah argumennya:
1.
Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate
itu tidak ada. Memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu
seperti distempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini.
Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan kepada kita bagaimana pengetahuan
itu datang, yakni melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan
bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli.
2.
Persetujuan umum adalah argumen yang kuat. Tidak ada sesuatu
yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea itu sebagai suatu
daya inhern. Argumen ini ditarik dari persetujuan umum. Bagaimana kita akan
mengatakan innate idea itu ada padahal umum tidak mengakui adanya.
3.
Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4.
Apa innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan
sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate idea
justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
5.
Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada
anak idiot, idea yang innate itu tidak ada. Padahal anak normal dan anak idiot
sama-sama berfikir.
Argumen ini secara lurus menolak adanya innate idea,
sekalipun ada, itu tidak dapat dibuktikan adanya. Lebih jauh ia berkata:
Marilah kita andaikan jiwa itu laksana kertas kosong
(tabularasa), tidak berisi apa-apa, juga tidak ada idea di dalamnya. Bagaimana
ia berisi sesuatu? Untuk menjawab pertanyaan ini saya hanya mengatakan: dari
pengalaman; di dalamnya seluruh pengetahuan didapat dan dari sana seluruh
pengetahuan berasal.
Hanya premis inilah yang dipertahankan dan digunakan oleh
Locke. Dengan ini pula ia menyerang innate idea dengan cara induksi.
c.
Implikasi Teori Tabularasa John Locke
Terhadap konsep Innate Idea
Teori
Tabularasa tidak memberikan ruang bagi paham yang berpendapat bahwa seseorang
dilahirkan dengan darah seniman, darah pengusaha, darah pekerja atau
darah-darah lainnya, dan menggambarkan bahwa manusia sudah ditakdirkan untuk
menjalani profesi tertentu sejak lahir. Menurut teori ini, alasan mengapa anak
seorang pengusaha cenderung menjadi pengusaha dan anak seorang buruh cenderung
menjadi buruh, atau anak seorang seniman cenderung menjadi seorang seniman
merupakan akibat dari pendidikan di lingkungan yang setiap hari dialami.
Anak seorang
pengusaha yang setiap hari berinteraksi dengan orang tuanya yang juga seorang
pengusaha, setiap hari mendengar perkataan orang tuanya mengenai usahanya, akan
belajar memahami konsep yang dipahami orang tuanya mengenai harta, cara
memperolehnya, dan mempunyai perilaku yang mirip dengan orang tuanya. Jadi,
jika seorang bayi seorang pengusaha tertukar dengan bayi seorang seniman,
kemungkinan besar bayi seorang pengusaha yang diasuh oleh seorang seniman akan
menjadi seniman dan bayi seniman yang diasuh oleh pengusaha akan menjadi
pengusaha.
Teori ini
memberi motivasi pada kita bahwa kita dapat menjadi apapun sesuai dengan
pilihan kita jika kita mau belajar. Lingkungan memang mempengaruhi jenis
pengetahuan yang kita peroleh, tetapi ketika kita sadar bahwa kita memiliki
kemampuan untuk memilih, kita juga memiliki kemampuan untuk belajar
merealisasikan pilihan kita.
d.
Hubungan Antara Subjek dan Objek
Menurut Locke, ketika kita melihat suatu obyek, kita
menangkap beberapa kualitas dari obyek tersebut. Ia kemudian menggolongkan
kualitas tersebut kedalam dua kategori. Yang pertama adalah kualitas
primer, yakni kualitas yang dimiliki obyek itu sendiri, termasuk ukurannya,
beratnya, dan massanya. Bagi Locke, kualitas primer ini akan tetap siapapun
yang mengukurnya. Yang kedua adalah kualitas sekunder, yakni
kualitas dari suatu obyek yang sangat tergantung pada cara peneliti melihat
objek tersebut sehingga dapat terus berubah sesuai dengan kondisi. Misalnya,
bau, warna dan suara, sangat tergantung dari pekanya indera kita. Jika kualitas
penerangan berubah, kemungkinan besar warna juga akan berubah. Dengan demikian
ilmu pengetahuan lebih memfokoskan analisisnya pada kualitas primer, karena
kualitas primer lebih terukuar dan lebih obyektif daripada kualitas sekunder.
Cara lain untuk mengkategorikan kualitas primer dan
kualitas sekunder adalah dengan menyebut kualitas objektif pada kategori
kualitas primer dan kualitas subjektif pada kategori kualitas sekunder.
Kualitas objektif adalah kualitas yang melekat pada objek, sedangkan kualitas
sekunder adalah kualitas hasil persepsi pikiran kita.
Ada persoalan rumit (conundrum) yang muncul saat
menggunakan konsep pengetahuan John Locke untuk menjawab pertanyaan Apakah
pohon yang runtuh di tengah hutan tanpa ada orang yang dapat mendengarkan
suaranya akan menimbulkan suara?Sebagai konsekuensinya, teori Locke akan
menjelaskan bahwa runtuhnya pohon tidak menimbulkan suara, hanya membuat
getaran pada udara dan benda-benda di sekitarnya. Hal ini karena suara adalah
kualitas subjektif dan benda yang bergetar adalah kualitas objektif.
Dengan demikian, pandangan John Locke mengarah pada esensialisme
ilmiah, yaitu bahwa tanpa pikiran yang mampu mempersepsikan sebuah kualitas
subjektif, kualitas itu tidak ada.
e.
Ragam Pengalaman Manusia
Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni
pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation)
dan pengalaman batiniah (internal sense atau reflection).
Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu
segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian
pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap
aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki', 'meyakini', dan
sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk
pengetahuan melalui proses selanjutnya.
f.
Proses Manusia Mendapatkan Pengetahuan
Dari perpaduan dua bentuk pengalaman manusia, pengalaman
lahiriah dan pengalaman batiniah, diperoleh apa yang Locke sebut
'pandangan-pandangan sederhana' (simple ideas) yang berfungsi sebagai
data-data empiris. Ada empat jenis pandangan sederhana:
1. Pandangan yang hanya diterima oleh
satu indra manusia saja. Misalnya, warna diterima oleh mata, dan bunyi diterima
oleh telinga.
2. Pandangan yang diterima oleh
beberapa indra, misalnya saja ruang dan gerak.
3. Pandangan yang dihasilkan oleh
refleksi kesadaran manusia, misalnya ingatan.
4. Pandangan yang menyertai saat-saat
terjadinya proses penerimaan dan refleksi. Misalnya, rasa tertarik, rasa heran,
dan waktu.
Di dalam proses terbentuknya pandangan-pandangan sederhana ini, rasio atau pikiran manusia bersifat pasif atau belum berfungsi. Setelah pandangan-pandangan sederhana ini tersedia, baru rasio atau pikiran bekerja membentuk 'pandangan-pandangan kompleks' (complex ideas). Rasio bekerja membentuk pandangan kompleks dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan menghubung-hubungkan pandangan-pandangan sederhana tersebut. Ada tiga jenis pandangan kompleks yang terbentuk:
1. Substansi atau sesuatu yang berdiri
sendiri, misalnya pengetahuan tentang manusia atau tumbuhan.
2. Modi (cara mengada suatu hal) atau
pandangan kompleks yang keberadaannya bergantung kepada substansi. Misalnya,
siang adalah modus dari hari.
3. Hubungan sebab-akibat (kausalitas).
Misalnya saja, pandangan kausalitas dalam pernyataan: "air mendidih karena
dipanaskan hingga suhu 100° Celcius"
g.
Macam-macam Pengetahuan Menurut John
Locke
Berdasarkan esei-esei yang ditulis Locke, dapat
disimpulkan terdapat empat macam pengetahuan:
1. Intuitive knowledge
2. Demonstrative knowledge
3. Sensible knowledge
4. Faithful knowledge
Intuitive knowledge adalah
pengetahuan yang didapatkan rasio dari pemahamannya terhadap kesesuaian
atau ketidaksesuaian antara idea-idea secara langsung tanpa dipengaruhi oleh
unsur-unsur lainnya. Seperti putih adalah bukan hitam, lingkaran adalah bukan
segitiga, tiga lebih besar daripada dua, dan lain-lain.
Perlu dicatat, bahwa intuisi yang dimaksud Locke adalah
kekuatan yang ada pada rasio yang dapat mengetahui hubungan antara idea-idea
yang kita dapatkan melalui sensasi atau perenungan. Meskipun sensasi adalah
kekuatan rasio akan tetapi objeknya bersifat konkrit, dengan demikian,
intuisi menurut Locke tidak bertentangan dengan filsafat empirisme.
Demonstrative knowledge adalah
pengetahuan yang didapatkan rasio dari pemahamannya terhadap kesesuaian
atau ketidaksesuaian antara idea-idea secara tidak langsung, tetapi dengan
perantara idea-idea lain. Ini berarti tidak mengeluarkan suatu hukum terhadap
suatu permasalahan sebelum dapat membuktikannya. Hal ini mengharuskan analisis
rasio untuk sampai pada suatu hukum, seperti argumentasi matematis, dan
pembuktian atas eksistensi Tuhan.
Sensible knowledge adalah
pengetahuan terhadap adanya alam di luar kita. Dengan demikian ia bersandar
pada penginderaan. Menurut Locke meski pengetahuan ini tidak sampai pada
tingkat keyakinan dan pembuktian, namun lebih meyakinkan daripada pengetahuan
hipotesis, karena pengetahuan semacam ini membantu kita menetapkan adanya alam
luar. Sebagai buktinya, rasio dapat membedakan antara tidur dan jaga.
Locke mengatakan bahwa kita dapat meyakini adanya alam di
luar kita yang sesuai dengan persepsi-persepsi kita. Memang akal tidak dapat
mengetahui sesuatu yang konkret secara langsung, tapi melalui persepsi-persepsi
kita tentang sesuatu itu. Dari situlah pengetahuan kita terbentuk sejauh mana
ada kesesuaian antara persepsi-persepsi rasio dengan perkara-perkara luar.
Faithful knowledge adalah
pengetahuan yang diperoleh manusia melalui kepercayaan agama. Pengetahuan ini
tidak dapat dibuktikan karena di luar batas kemampuan rasio dan indera kita,
namun kita meyakininya dengan kuat karena merupakan rahasia keimanan (mysteri
of faith).
Pengetahuan semacam ini didapatkan dari agama dan kitab
suci yang diturunkan Tuhan. Locke menerima dengan bulat pengetahuan ini karena
ketidakmampuannya untuk membuktikannya, sebab akal tidak sanggup mencapai
hakikat keyakinan-keyakinan agama, di antaranya adalah esensi Tuhan itu
sendiri.
h.
Batas Pengetahuan
Sejauh mana batas pengetahuan manusia? Locke memberikan
batasan-batasan sebagai berikut:
§ Pengetahuan
kita tidak mungkin melampaui idea-idea kita.
§ Pengetahuan
kita tidak bisa melampaui pemahaman kita tentang adanya kesesuaian atau
ketidaksesuaian antara idea-idea yang terbentuk melalui intuisi, argumentasi,
dan persepsi.
§ Kita tidak
mungkin mencapai pengetahuan intuitif yang mencakup seluruh idea-idea kita,
atau segala yang ingin kita ketahui. Karena kita tidak dapat mengetahui semua
hubungan antara idea-idea itu baik dengan menyusun ataupun
membanding-bandingkannya.
§ Demonstrative
knowledge juga tidak mungkin mencakup semua idea-idea kita. Karena kita tidak
selamanya menemukan idea penengah yang menghubungkan dua idea dalam
argumentasi. Dalam kondisi ini kita tidak dapat menghasilkan pengetahuan
ataupun argumentasi.
§ Sensible
knowledge tidak melampaui lebih jauh dari adanya perkara yang serupa di hadapan
kita dalam kenyataannya, maka ia lebih sempit dari dua macam pengetahuan
sebelumnya.
Dari uraian-uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa
teori pengetahuan Locke sangat mendominasi pemikiran kefilsafatannya.
Sebagaimana para filusuf abad ke-17, 18, dan 19 lainnya, ia juga sibuk meneliti
asal pengetahuan manusia, sifat dasar pengetahuan, sumber pengetahuan, tingkat
keyakinan dan batas-batasnya. Ia memberikan batasan atas dasar-dasar keyakinan,
pendapat, kesesuaian, perbedaan, dan tingkatan masing-masing. Locke adalah
orang pertama yang menerapkan metode empiris di abad moderen dan metode ilmiah
dalam filsafat.
Pembatasannya terhadap empat macam pengetahuan, yaitu
pengetahuan intuitif yang mengantarkan kepada pengetahuan terhadap wujud dzati,
sensible knowledge yang membawa kepada pengetahuan terhadap wujud sesuatu yang
parsial, pengetahuan agama yang menyampaikan kepada pengetahuan terhadap
eksistensi Tuhan, metode ini adalah kebalikan dari metode yang berlaku
sebelumnya.
Teori pengetahuan Locke juga sampai pada pengakuan akan
keterbatasan akal manusia mengetahui segala sesuatu yang ada di sekelilingnya
seputar kenyataan-kenyataan alam material dan nonmaterial. Bahkan ia sendiri
tidak dapat mengetahui sesuatupun tentang idea-ideanya sendiri dan
hubungan-hubungan yang ada di antaranya. Dengan demikian, Locke membuka jalan
bagi penelitian terhadap batas-batas pengetahuan manusia menurut Barkeley,
Hume, dan Emmanuel Kant.
DAFTAR
PUSTAKA
Russell, Bertrand. 2002. Sejarah FilsafatBarat. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar