“Inti-inti
pemikiaran filsafat politik plato dan aristoteles”
A.
Pendahuluan
Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang teristimewa
dikarunai kemampuan berpikir yang sekaligus membedakannya dengan ciptaan
lainnya. Menarik untuk menyimak dari sejarah mengenai bagaimana kemampuan
berpikir manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengetahuan semakin
bertambah dan apa yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan, sekarang dapat
dilakukan.
Orang
Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan, bahwa segala
sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos
atau dongeng dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak
berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos
(dongeng-dongeng)
Setelah abad
ke-6 SM muncul , sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka
menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat
diterima akal (rasional). Keadaan yang dimikian ini sebagai suatu demitologi,
artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal-pikir dan
meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi
Ada
beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal
adalah dua tokoh yang dikenal yaitu Plato dan Aristoteles.
Kedua orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir
barat (Western Mind). Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari
“kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid
dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris”
dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.
B. Plato
Plato (bahasa Yunani:
Πλάτων) (lahir sekitar 427 SM -
meninggal sekitar 347 SM)
adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani,
penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di
Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi
oleh Socrates.. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam
bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia,
"negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya
pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak
dialog di mana Socrates adalah
peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan
tentang orang di gua. Ciceromengatakan Plato
scribend est mortuus (Plato
meninggal ketika sedang menulis).
Plato menulis tak kurang dari tiga puluh
enam buku, kebanyakan menyangkut masalah politik dan etika selain metafisika
dan teologi. Tentu saja mustahil mengikhtisarkan isi semua buku itu hanya dalam
beberapa kalimat. Tetapi, dengan risiko menyederhanakan pikiran-pikirannya,
saya mau coba juga meringkas pokok-pokok gagasan politiknya.yangdipaparkan
dalam buku yang kesohor, Republik, yang mewakili pikiran-pikirannya tentang
bentuk masyarakat yang menurutnya ideal.
Bentuk
terbaik dari suatu pemerintahan, usul Plato, adalah pemerintahan yang dipegang
oleh kaum aristokrat. Yang dimaksud aristokrat di sini bukannya aristokrat yang
diukur dari takaran kualitas, yaitu pemerintah yang digerakkan oleh putera
terbaik dan terbijak dalam negeri itu. Orang-orang ini mesti dipilih bukan
lewat pungutan suara penduduk melainkan lewat proses keputusan bersama.
Orang-orang yang sudah jadi anggota penguasa atau disebut “guardian” harus
menambah orang-orang yang sederajat semata-mata atas dasar pertimbangan
kualitas.
Plato
percaya bahwa bagi semua orang, entah dia lelaki atau perempuan, mesti
disediakan kesempatan memperlihatkan kebolehannya selaku anggota “guardian”.
Plato merupakan filosof utama yang pertama, dan dalam jangka waktu lama
nyatanya memang cuma dia, yang mengusulkan persamaan kesempatan tanpa memandang
kelamin. Untuk membuktikan persamaan pemberian kesempatannya, Plato
menganjurkan agar pertumbuhan dan pendidikan anak-anak dikelola oleh negara.
Anak-anak pertama-tama kudu memperoleh latihan fisik yang menyeluruh, tetapi
segi musik, matematika dan lain-lain disiplin akademi tidak boleh diabaikan.
Pada beberapa tahap, ujian ekstensif harus diadakan. Mereka yang kurang maju
harus diaalurkan untuk ikut serta terlibat dalam kegiatan ekonomi masyarakat,
sedangkan orang-orang yang maju harus terus melanjutkan dan menerima gemblengan
latihan. Penambahan pendidikan ini harus termasuk bukan cuma pada mata
pelajaran akademi biasa, tetapi juga mendalami filosofi yang oleh Plato
dimaksud menelaah doktrin bentuk ideal faham metafisikanya.
Pada
usia tiga puluh lima tahun, orang-orang ini yang memang sudah betul-betul
meyakinkan mampu menunjukkan penguasaannya di bidang teori-teori dasar, harus
menjalani lagi tambahan latihan selama lima belas tahun, yang mesti termasuk
bekerja mencari pengalaman praktek. Hanya orang-orang yang mampu memperlihatkan
bahwa mereka bisa merealisir dalam bentuk kerja nyata dari buku-buku yang
dipelajarinya dapat digolongkan kedalam “kelas guardian.” Lebih dari itu, hanya
orang-orang yang dengan jelas bisa. menunjukkan bahwa minat utamanya adalah
mengabdi kepada kepentingan masyarakatlah yang bisa diterima ke dalam. “kelas
guardian.”
Keanggotaan
guardian tidak dengan sendirinya menarik perhatian masyarakat. Sebab, jadi
guardian tidaklah banyak mendapatkan duit. Mereka hanya dibolehkan memiliki
harta pribadi dalam jumlah terbatas dan tak boleh punya tanah buat rumah
pribadinya. Mereka menerima gaji tertentu dan tetap (itu pun dalam jumlah yang
tak seberapa), dan tidak dibolehkan punya emas atau perak. Anggota guardian
tidak diperkenankan punya famili yang terpisah tempatnya, mereka harus makan
berbareng, punya pasangan bersama. Imbalan buat pentolan-pentolan filosof ini
bukannya kekayaan melainkan kepuasan dalam hal melayani kepentingan umum.
Begitulah ringkasnya sebuah republik yang ideal menurut Plato.
Republik
terbaca luas selama berabad-abad. Tetapi harus dicatat, sistem politik yang
dianjurkan didalamnya belum pernah secara nyata dipraktekkan sebagai model
pemerintahan mana pun. Selama masa antara jaman Plato hingga kini, umumnya
negara-negara Eropa menganut sistem kerajaan. Di abad-abad belakangan ini
beberapa negara menganut bentuk pemerintah demokratis. Ada juga yang menganut
sistem pemerintahan militer, atau di bawah tiran demagog seperti misalnya
Hitler dan Mussolini. Tak satu pun pemerintahan-pemerintahan ini punya
kemiripan dengan republik ideal Plato. Teori Plato tak pernah jadi anutan
partai politik mana pun, atau jadi basis gerakan politik seperti halnya terjadi
pada ajaran-ajaran Karl Marx.
Memang
benar, tak satu pun pemerintahan sipil di Eropa disandarkan atas model Plato
secara langsung. Namun, terdapat persamaan yang mengagumkan antara posisi
gereja Katolik di Eropa abad tengah dengan “kelas guardian” Plato. Gereja
Katolik abad pertengahan terdiri dari kaum elite yang mempertahankan diri
sendiri agar tidak layu dan tersisihkan, yang anggota-anggotanya mendapat
latihan-latihan filosofis resmi. Pada prinsipnya, semua pria, tak peduli dari
mana asal-usulnya dapat dipilih masuk kependetaan (meski tidak untuk wanita).
Juga pada prinsipnya, para pendeta itu tak punya famili dan memang diarahkan
semata-mata agar mereka memusatkan perhatian pada kelompok mereka sendiri,
bukannya nafsu keagungan disanjung-sanjung.
Peranan
partai Komunis di Uni Soviet juga ada yang membandingkannya dengan “kelas
guardian” Plato dalam dia punya republik ideal. Di sini pun kita temukan
kelompok elite yang kesemuanya terlatih dengan filosofi resmi. Gagasan Plato
juga mempengaruhi struktur pemerintahan Amerika Serikat. Banyak anggota
konvensi konstitusi Amerika mengenal dan tak asing dengan gagasan-gagasan
politik Plato. Dia maksud, sudah barang tentu, agar Konstitusi Amerika Serikat
membuka kemungkinan menggali dan mempengaruhi kehendak rakyat. Dan juga
diinginkan sebagai sarana memilih orang-orang yang paling bijak dan paling baik
untuk memerintah negara.
Kesulitan
menentukan arti penting pengaruh Plato sepanjang masa meski luas dan menyebar
adalah ruwet dipaparkan dan bersifat tidak langsung. Sebagai tambahan teori
politiknya, diskusinya di bidang etika dan metafisika telah mempengaruhi banyak
filosof yang datang belakangan. Apabila Plato ditempatkan pada urutan sedikit
lebih rendah ketimbang Aristoteles dalam daftar sekarang ini, hal ini terutama
lantaran Aristoteles bukan saja seorang filosof melainkan pula seorang ilmuwan
yang penting. Sebaliknya, penempatan Plato lebih tinggi urutannya ketimbang
pemikir-pemikir seperti John Locke, Thomas Jefferson dan Voltaire, sebabnya
lantaran tulisan-tulisan ihwal politiknya mempengaruhi dunia cuma dalam jangka
masa dua atau tiga abad, sedangkan Plato punya daya jangkau lebih dari dua
puluh tiga abad.
C. Aristoteles
Riwayat Hidup
Aristoteles lahir di Stagira, kota di
wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia
tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia.
Pada usia 17 tahun, Aristoteles menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat
menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles
meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi
Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali
ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan
akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323
SM. Perubahan politik seiring jatuhnya Alexander menjadikan dirinya harus
kembali kabur dari Athena guna menghindari nasib naas sebagaimana dulu dialami
Socrates. Aristoteles meninggal tak lama setelah pengungsian tersebut.
Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.
Pemikiran Filsafat Aristoteles berkembang
dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato
ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia
mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya
tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya
yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika,
Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Demokrasi sendiri memiliki arti suatu bentuk atau mekanisme sitem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Sedangkan Monarki adalah bentuk pemerintahan yang tertua. dimana setiap pemerintahan yang didalamnya menerapkan kekuasaan yang akhir atau tertinggi pada personel atau seseorang, tanpa melihat pada sumber sifat – sifat dasar pemilihan dan batas waktu jabatannya maka itulah monarki. Pendapat lain menegaskan, monarki merupakan kehendak atau keputusan seseorang yang akhirnya berlaku dalam segala perkara didalam pemerintahan.
Aristoteles sudah sejak lama mengingatkan bahwa politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itulah filsuf Yunani klasik ini berani menempatkan politik sebagai bagian dari hakikat kemanusiaan dengan sebutan zoon politikon. Politikon dalam pemahaman Aristoteles bukanlah pembudayaan cara-cara tidak beradab, melainkan realitas humanistik yang penuh dengan tindakan-tindakan keberadaban seperti tanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan oleh orang lain dan kepekaan terhadap kehidupan sesama. Jelas dalam politik irasional nilai-nilai ini bukan sesuatu yang penting.
Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki. Demokrasi sendiri memiliki arti suatu bentuk atau mekanisme sitem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Sedangkan Monarki adalah bentuk pemerintahan yang tertua. dimana setiap pemerintahan yang didalamnya menerapkan kekuasaan yang akhir atau tertinggi pada personel atau seseorang, tanpa melihat pada sumber sifat – sifat dasar pemilihan dan batas waktu jabatannya maka itulah monarki. Pendapat lain menegaskan, monarki merupakan kehendak atau keputusan seseorang yang akhirnya berlaku dalam segala perkara didalam pemerintahan.
Aristoteles sudah sejak lama mengingatkan bahwa politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itulah filsuf Yunani klasik ini berani menempatkan politik sebagai bagian dari hakikat kemanusiaan dengan sebutan zoon politikon. Politikon dalam pemahaman Aristoteles bukanlah pembudayaan cara-cara tidak beradab, melainkan realitas humanistik yang penuh dengan tindakan-tindakan keberadaban seperti tanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan oleh orang lain dan kepekaan terhadap kehidupan sesama. Jelas dalam politik irasional nilai-nilai ini bukan sesuatu yang penting.
Masa emas Aristoteles berahkir pada setahun
setelah Alexander Agung meninggal(323 sM), Karena takut dibunuh orang Yunani
yang membenci pengikut Alexander. Aristoteles akhirnya melarikan diri ke
Chalcis. Tapi ajal memang tak mengenal tempat. Mau bersembunyi kemanapun, kalau
ajal sudah tiba tidak ada yang bisa menolak. Demikian juga dengan tokoh ini, tepat
pada tahun 322 sM, pada usia 62 tahun ia meninggal juga di kota tersebut,
Chalcis, Yunani.
PENUTUP
Filsafat
memberikan beberapa tujuan bagi kehidupan manusia, salah satu diantaranya yaitu
dengan berfikir filsafat seseorang bisa lebih menjadi manusia, lebih mendidik
dan membangun diri sendiri. Filsafat memiliki fungsi memberikan petunjuk dan
arah dalam perkembangan keilmuan. Dengan penggunaan filsafat, seseorang akan
mampu untuk berfikir secara sistematis dalam menghadapi suatu masalah/hal, dan
di sisi lain ia juga akan memiliki konsep pemikiran secara menyeluruh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar